<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DJENGKOL KEDIRI</title>
	<atom:link href="http://djengkol.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://djengkol.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Dec 2008 15:29:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='djengkol.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DJENGKOL KEDIRI</title>
		<link>http://djengkol.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://djengkol.wordpress.com/osd.xml" title="DJENGKOL KEDIRI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://djengkol.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Simpang Lima Gumul MEGAH, DJengkol RESAH</title>
		<link>http://djengkol.wordpress.com/2008/06/10/simpang-lima-gumul-megah-djengkol-resah/</link>
		<comments>http://djengkol.wordpress.com/2008/06/10/simpang-lima-gumul-megah-djengkol-resah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 04:12:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djengkol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[djengkol]]></category>
		<category><![CDATA[galian c]]></category>
		<category><![CDATA[jengkol]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[penambangan liar]]></category>
		<category><![CDATA[plosokidul]]></category>
		<category><![CDATA[plosoklaten]]></category>
		<category><![CDATA[pt triple's]]></category>
		<category><![CDATA[reoisasi]]></category>
		<category><![CDATA[simpang lima gumul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djengkol.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Kediri, 09 Juni 2008 Nomor    : Istimewa Perihal    : Desaku Yang Permai (SLG Megah, DJengkol RESAH) Sebuah Surat Terbuka Kepada Presiden RI Kepada Yth : Presiden Republik Indonesia Bpk. DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono Di Jakarta Ass.Wr.Wb. Semoga Allah SWT, senantiasa &#8230; <a href="http://djengkol.wordpress.com/2008/06/10/simpang-lima-gumul-megah-djengkol-resah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=7&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kediri, 09 Juni 2008</p>
<p>Nomor    : Istimewa<br />
Perihal    : <strong>Desaku Yang Permai (SLG Megah, DJengkol RESAH)</strong><br />
<strong>Sebuah Surat Terbuka Kepada Presiden RI </strong></p>
<p>Kepada Yth :<br />
<strong>Presiden Republik Indonesia</strong><br />
Bpk. DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono<br />
Di Jakarta</p>
<p>Ass.Wr.Wb.<br />
Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan limpahan rahmat dan karunia kesehatan kepada Bapak, sehingga dapat terus memimpin negeri ini, hingga masa jabatan Bapak berakhir.</p>
<p>Bapak Presiden YTH, sebagai Warga Negara Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Kediri – Jawa Timur, dan dibesarkan di Dusun Djengkol, Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, perkenankan saya menyampaikan sebuah “uneg – uneg” yang saya rasakan sebagai seorang anak bangsa, yang mendambakan keselarasan dan harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, khususnya di desa Plosokidul.</p>
<p>Bapak Presiden YTH, adakah sebuah konsep pembangunan di negeri ini yang harus mengorbankan kepentingan lain, yang tidak kalah pentingnya, bahkan menyangkut keselamatan dan ketentraman masyarakat? Hal ini, jelas tidak akan pernah terjadi pada masa pemerintahan yang Bapak pimpin.</p>
<p>“Desaku Yang Permai, Sebuah Surat Terbuka Kepada Presiden RI” adalah sebuah judul sederhana, sebuah bukti dan bhakti kami sebagai anak bangsa dalam mencintai Indonesia. Saya sertakan terpisah dari surat ini dan terlampir tulisan lepas mengenai uneg uneg saya dengan judul yang sama yaitu “Desaku Yang Permai”. Mohon kiranya Bapak dapat bijak mensikapi apa yang telah saya tuangkan dalam tulisan lepas ini.</p>
<p>Demikian atas kesediaan Bapak mensikapi dan meluangkan waktu untuk memaknai surat ini, saya sampaikan terimakasih.</p>
<p>Wass.Wr.Wb.</p>
<p><strong>Ganang Widiyanto Kakiyat</strong><br />
NIK/NIKS : 1050211101743008</p>
<p>Tembusan :</p>
<p>Kepada Yth Bupati Kediri &#8211; Di Kediri</p>
<p>======</p>
<p><em>Desaku yang kucinta<br />
Pujaan hatiku<br />
Tempat ayah dan bunda<br />
dan handai taulanku</em></p>
<p><em>Tak mudah kulupakan<br />
Tak terberai<br />
Selalu kurindukan<br />
Desaku yang permai</em></p>
<p><strong>DJENGKOL MASA LALU</strong><br />
Lagu ini senantiasa terngiang ditelinga saya, saat berada jauh dari kampung halaman. Dan terjawab sudah semua kerinduan itu, ketika bisa kembali ke kampung halaman meski hanya sesaat, kala liburan tiba.</p>
<p>Desa itu bernama Plosokidul, satu dari sekian desa yang masuk dalam Kecamatan Plosoklaten, di wilayah Kabupaten Kediri. Dusun dimana orang tua dan kerabat saya bermukim, adalah Dusun Djengkol (Jengkol), sebuah kawasan perkebunan Tebu, yang kini di kelola oleh Pabrik Gula Pesantren Baru PTPN 10.<br />
Layaknya kebanyakan “pedesaan” di Indonesia, kehidupan agraris sangat “mewarnai” desa Plosokidul. Hanya yang membedakannya dengan desa lainnya di wilayah Plosoklaten adalah, adanya lahan perkebunan tebu, yang entah berapa ratus, mungkin ribuan hektar.</p>
<p>Dulunya, lahan tebu yang dikini dikelola oleh PTP 10 itu, dalam penguasaan HVA, perusahaan swasta jaman Hindia Belanda, dengan komoditas utama adalah tanaman (serat) nanas dan ketela. Di Djengkol awal abad 19, terdapat pabrik pengolahan serat nanas dan ketela, begitu juga dengan pabrik di Bendoredjo (HVA), Ponggok Kabupaten Blitar. Bila di Bendoredjo, bangunan pabriknya sudah hancur dan terkubur oleh peradaban jaman, hingga kini bekas emplasemen Djengkol masih difungsikan sebagai kawasan perkebunan milik PG.Pesantren Baru Kediri. Pemilihan Djengkol, juga sekitarnya sebagai lahan perkebunan, adalah pilihan yang sangat sempurna bagi Pemerintah Hindia Belanda kala itu, untuk eksplorasi kekayaan Nusantara. Djengkol dikaruniai lahan perkebunan yang subur, karena berada di lereng Gunung Kelud. Tapi sudahlah, saya sedang tidak ingin “menguliti” Djengkol masa lalu-nya.</p>
<p><strong>DJENGKOL &amp; ALIRAN LAHAR GUNUNG KELUD</strong><br />
Djengkol Plosokidul, yang berada di sekitaran lereng Gunung Kelud, juga kebagian mendapatkan “sungai” Aliran Lahar. Aliran Lahar yang menjadi pembatas desa Plosokidul dengan tetangganya Desa Jarak, pada tahun 1990 panen lahar dingin yang dimuntahkan saat Gunung Kelud meletus kala itu.<br />
Hampir saja kawasan “perkampungan” Djengkol disergap lahar dingin, karena jebolnya tanggul pembatas yang berada di sisi utara aliran lahar, yang persis hanya 300 meter dari kampung kami.</p>
<p>Dengan berbagai upaya pemerintah setempat, juga warga Plosokidul akhirnya “jebolnya” tanggul aliran lahar itu dapat dicegah dengan tumpukan karung pasir, yang entah berapa banyak jumlahnya kala itu. Sebuah jembatan penghubung yang melintas diatas aliran lahar itupun sempat rusak berat, karena terjangan batu dan berbagai material yang dimuntahkan Kelud. Tak berselang lama, pada 26 Maret 1991 sebuah jembatan megah berangka besi baja yang telah selesai dibangun pasca bencana Kelud, diresmikan oleh Menteri Urusan Peranan Wanita kala itu Ny.A.Sulasikin Moerpratomo.</p>
<p>Hampir sepuluh tahun berikutnya, tanggul tradisionalpun akhirnya di tinggikan dengan tanggul permanen berbahan semen untuk pengamanan “Peluap Kantong Lahar Kali Sukorejo Jengkol Plosoklaten”. Pembangunan peninggian tanggul ini ditangani oleh Proyek Gunung Kelud, Direktorat Sungai, Dit.Jen Pengairan Departemen Pekerjaan Umum, tahun anggaran 1999/2000. Lokasi tanggul ini, persis di timur jembatan Kalasan yang diresmikan pada tahun 1991.</p>
<p><strong>DJENGKOL &amp; REBOISASI</strong><br />
Serasa tak ingin kembali terkena bencana lahar Kelud layaknya tahun 1990, membuat Pemerintah Kabupaten Kediri mengantisipasinya dengan membuat kawasan reboisasi di sepanjang sungai aliran lahar ini. Setelah melewati masa – masa yang panjang, karena sebelumnya lahan di kiri dan kanan aliran lahar ini dalam penguasaan PTP 10, akhirnya membuahkan sebuah kesepahaman, bahwa lahan itu diserahkan kepada pemerintah, yang penggunaannya untuk penghijauan atau reboisasi.</p>
<p>Program Penghijauan yang dilakukan oleh Pemerintah ini, tentunya tidak akan berjalan sebagaimana mestinya, jika tanpa keterlibatan masyarakat yang memang merasakan dampak langsung bencana Kelud. Melalui sebuah mekanisme dan pengaturan khusus, akhirnya lahan reboisasi ini diserahkan untuk dikelolakan kepada masyarakat. Hal itu disambut gembira oleh masyarakat, yang akhirnya menerima tawaran pengelolaan lahan reboisasi itu, tentu dengan berbagai persyaratan.</p>
<p>Pada perkembangan berikutnya, lahan reboisasi sekitar lebih dari 400 Ha itu akhirnya dikelola oleh masyarakat desa Plosokidul, juga warga 2 desa lainnya. Mereka diwajibkan menanam tanaman keras berupa Jati, Pete, Sengon, Rambutan, Mindi dll, disamping mereka diperkenankan mengoptimalkan lahannya masing – masing dengan menanam jagung, nanas, ketela serta palawija lainnya. Memang tidak selamanya perjalanan reboisasi ini berjalan mulus, ribuan tanaman penghijauan itu tidak sepenuhnya tumbuh sebagaimana mestinya. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya memang tingkat kesuburan tanahnya yang sudah kritis, mengingat lahan ini sebelumnya adalah lahan sekitar aliran lahar yang berpasir. Tehnik bercocok tanam yang “memang” tidak sembarangan. Dibutuhkan keahlian yang mumpuni untuk menanganinya. Keseimbangan antara pemeliharaan tanaman keras sebagai “pagar utama penghijauan” dengan komoditas palawija yang ditanam masyarakat. Belum lagi biaya operasional untuk pengelolaan yang diantaranya termasuk obat dan pupuk untuk komoditas taninya.</p>
<p>Sebuah harapan besar, ketika masyarakat pengelola lahan reboisasi ini dapat memanen hasil taninya, setelah cukup banyak daya dan upaya untuk mewujudkan, hasil yang melimpah. Namun tentu tak semuanya semulus harapan. Kenyataan dilapangan tidaklah sesuai dengan usaha mereka. Di tengah keputus asaaan dan telah banyaknya modal yang dikeluarkan masyarakat banyak diantara mereka yang akhirnya malah menyewakan lahan reboisasi ini kepada pihak lain. Sebuah kondisi yang sangat dipermaklumkan, saat kondisi perekonian masyarakat yang makin melemah kini.</p>
<p><strong>REBOISASI &amp; KOMODITAS TANI </strong><br />
Disinilah salah satu percik masalah yang muncul pada program pengelolaan lahan reboisasi di Djengkol. Para petani penyewa penggarap, utamanya warga luar desa Plosokidul, beberapa diantara mereka akhirnya berbondong bondong menanami lahan yang disewanya dengan tanaman tebu, yang jelas – jelas akan menggangu program penghijauan. Tanaman keras penghijauan, tidak akan maksimal berkembang dilahan reboisasi karena tertutup oleh tanaman tebu yang tingginya bisa mencapai 2 meter lebih. Kebutuhan sinar matahari, sirkulasi udara untuk tanaman keras penghijauan jelas akan terganggu.</p>
<p>Pun demikian, tak banyak lahan reboisasi yang ditanami tebu. Sebagian besar lainnya, masyarakat masih menanaminya dengan jagung, pepaya, nanas, ketela dan komoditas pertanian yang layak tanam. Disela sela “harapan panen besar” inilah, mereka masih memelihara dan merawat dengan baik, tanaman keras untuk penghijuan. Bahkan mereka pun juga menaman tanaman keras di batas lahan mereka, sekaligus sebagai pagar hidup. Mungkin, kini tidak akan tampak hasilnya, tetapi setidaknya 10 – 20 tahun yang akan datang, sebuah keniscayaan tanaman keras berupa Jati, Pete dll itu, menjadi salah satu penopang penghijauan yang sebenarnya. Dengan pembinaan dan pengawasan yang berkelanjutan dari pihak pemerintah, harapan akan hijaunya sepanjang sungai aliran lahar Kelud ini pasti akan terwujud. Tak bisa berjalan sendirian memang, namun juga dibutuhkan sebuah kesungguhan yang mendalam dari masyarakat penggarap lahan reboisasi agar tanaman penghijauan yang di tanamnya, berkembang sebagaimana yang diharapkan.</p>
<p><strong>REBOISASI &amp; PENAMBANGAN PASIR</strong><br />
Program penghijauan di lahan aliran lahar Kelud di kawasan Djengkol ini, memang belum maksimal menampakkan hasil. Dari pengamatan saya dilokasi, memang banyak tanaman keras yang tumbuh kembangnya tidak kelihatan/ tak kasat mata. Bahkan “terkadang” malah tertelan oleh tingginya tanaman pendukung, komoditas pertanian yang dikelola masyarakat penggarap. Jika pun ini dianggap sebagai sebuah “permasalahan”, justru kini muncul permasalahan baru di aliran lahar Kelud.</p>
<p>Alih – alih mengeruk pasir aliran lahar, agar kantung lahar menjadi bersih dan lancar jika terjadi bencana Kelud, maka pasir yang termasuk bahan galian C ini sejak 2003 lalu dilakukan pengerukan oleh  pengembang terbesar di Kediri, PT Triple’S. Pasir yang dikeruk dengan alat alat berat ini, “dipindahkan” ke proyek Pemerintah Kabupaten Kediri berupa pembangunan Simpang Lima Gumul (SLG).</p>
<p>Banyak yang mempertanyakan izin penambangan pasir ini. Sebenarnya, saya sendiri tidak akan mempersoalkan boleh tidaknya pasir di aliran lahar ini di keruk. Tetapi, prosedural dan tehnik pelaksanaannya yang seharusnya menjadi pondasi utama, sebuah kebijakan dijalankan. Belum lagi faktor kerusakan lingkungan yang timbul karenanya.</p>
<p>Dampak langsung yang dirasakan petani penggarap lahan reboisasi malah sudah terjadi lebih awal. Banyak lahan pertanian yang akhirnya rusak, karena sebagian lahannya digunakan untuk akses/ jalan truk pengangkut pasir yang keluar masuk ratusan kali, setiap harinya. Dengan ganti rugi yang tidak memadahi, wajar jika akhirnya petani penggarap lahan reboisasi ini “geram”. Buntut kegeraman mereka ini, akhirnya diwujudkan dengan membuat lobang yang menganga pada jalan masuk ke areal aliran lahar. Dimaksudkan, agar truk tidak bisa kembali beraktifitas. Benar adanya. Penambangan pasir galian C yang “dianggap liar” ini, sementara waktu sempat berhenti, karena maraknya pemberitaan di media massa di Kediri. Tak urung, anggota DPRD pun akhirnya bak kebakaran jenggot.</p>
<p><strong>PENAMBANGAN PASIR “LIAR”<br />
&amp; SIKAP PEMRINTAH KABUPATEN KEDIRI</strong><br />
Belum lama ini, secara khusus anggota Dewan yang Terhormat itu, sidak langsung ke lokasi. Lutfi Mahmudiono, anggota Komisi D (Komisi Kesra), misalnya, mendukung agar  proyek tambang yang dikerjakan PT Triple’S tersebut diungkap permasalahannya, kemudian diselesaikan sesuai aturan. Antara lain, terkait perizinan yang diduga belum beres. “Ini persoalan mendasar. Belum lagi dampak kerusakan lingkungan yang luar biasa akibat ulah pengembang,” tegasnya kepada Koran SURYA, Jumat (18/4/08).</p>
<p>Ditambahkan Lutfi, PT Triple’S harus bertanggung jawab atas rusaknya konservasi alam di sepanjang aliran kantung lahar. Karena, pengembang tersebut melakukan aktivitas penambangan sampai  menyentuh km 10, dengan kedalaman delapan meter dan lebar 30 meter. Hal ini diduga menyalahi UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.</p>
<p>Sementara itu pada Koran Surabaya Pagi, anggota DPRD Kabupaten Kediri lainnya, Sumartono mengatakan, sesuai prosedur penambangan galian C oleh Triple’S di Djengkol, memang harus dihentikan. Kalau sekarang pihak Triple S melakukan aktivitas lagi , menurutnya Pemkab Kediri tidak ada keseriusan dalam mengurai masalah ini.</p>
<p>Menurut Sumartono, dengan tidak adanya keseriusan dari pihak Pemkab Kediri untuk menghentikan aktivitas penambangan Galian C, berarti diduga juga ada kemungkinan kepentingan dari pihak Pemkab Kediri sendiri. Masalahnya kalau penambangan tersebut dihentikan, kemana lagi SLG mendapatkan tanah untuk menguruk selain galian C di Djengkol dari Triple S. ”Mungkin ini salah satu alasan pihak Pemkab tidak segera menghentikan penambangan yang dilakukan Triple’S,” jelasnya.</p>
<p>Disinyalir berhentinya aktivitas penambangan Triple S beberapa waktu yang lalu bukan atas kebijakan Pemkab. Akan tetapi lebih dikarenakan adanya sorotan dari media, mengenai adanya ketidakberesan yang terjadi dalam proses penambangan galian C tersebut. Salah satunya belum keluarnya izin dari KPPT, yang sampai saat ini masih dalam proses.</p>
<p>Menanggapi masalah tersebut Kepala KPPT Joko Suprianto kepada Koran Surabaya Pagi mengatakan, sementara ini izin penambangan Triple S masih dalam proses. “Bila pihak Triple menyalahi prosedur penambangan, seharusnya izinnya bisa kita cabut. Cuma yang menjadi persoalan selama ini pihak Triple S belum mengantongi izin penambangan. Terus apanya yang kita cabut, izinnya saja belum keluar”.</p>
<p>ANEH bin AJAIB bukan? Izin penggalian belum pernah ada, dampak kerusakan lingkungan sudah terjadi. Aktivitas penambangan sudah sempat terhenti karena maraknya pemberitaan dan protesnya masyarakat penggarap lahan penghijauan, dan disinyalir bukan karena larangan dari pihak PemKab. Dan kini disaat kami semua, masyarakat Djengkol belum mengetahui apakah izinnya sudah selesai pemrosesan, malah penambangan kembali dilakukan.  Bahkan saat saya menyusun tulisan lepas ini, masih terlihat berapa ratus kali, truk besar pengangkut pasir milik Triple’S mondar-mandir membawa pasir dari Djengkol menuju ke kawasan Simpang Lima Gumul, SLG.</p>
<p><strong>TAMBANG PASIR “LIAR” &amp; UANG PAJAK</strong><br />
Sampai saat ini (awal Juni 2008), sebagai salah seorang warga Djengkol saya belum mengetahui secara pasti, apakah penambangan yang dilakukan TRIPLE’S sudah mengantongi ijin ataukah belum. Jika memang sudah, karena sekarang  bukan jamannya lagi represif dan otoriter, sudah seyogyanya secara transparan Pemerintah Kabupaten Kediri mengumumkannya kepada khalayak.</p>
<p>Mungkinkah Triple’S sudah mengantongi ijin, mengingat aktivitas penambangan pasir kini kembali lagi berjalan. Atau, karena sudah tidak ada lagi pemberitaan di media massa yang mempermasalahkannya? Saya sendiri enggan menanyakan kepada yang berkepentingan.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan keterangan dari sebuah sumber, yang menyebutkan pihak pemerintahan desa sejak 2002 – 2003 hanya mendapatkan konstibusi lima ratus rupiah per rit (Rp.500/ rit) atau sekali angkut. Sedang mulai 2005, pihak desa Plosokidul hanya mendapatkan seribu rupiah per rit (Rp.1000/rit). Rit adalah satuan untuk menyebut satu bak truk besar penuh berisi pasir, sekali jalan.</p>
<p>Saat saya telisik lebih lanjut kepada pihak pemerintah desa, mengenai keberadaan ijin galian C yang dilakukan oleh Triple’S di Djengkol, sebuah sumber mengatakan, pihaknya hingga kini belum pernah mengetahuinya. Sedang mengenai konstribusinya kepada pihak desa, selama ini dikelola oleh seseorang (ID) yang menyetorkannya kepada pihak pemerintah desa. Selama ini pihak pemerintah desa, hanya manut dengan apa yang telah berjalan, mengingat “harus mengamankan” kebijakan pemerintah Kabupaten Kediri yang sedang membutuhkan bahan galian C untuk membangun kawasan Simpang Lima Gumul.</p>
<p>Meski “manut” bukan berarti tidak pernah muncul riak – riak permasalahan sebagai akibat adanya tambang galian C di wilayahnya. Setidaknya itu yang dapat terbaca, saat berkunjung pada nara sumber yang memberikan keterangan kepada saya.</p>
<p>Ironis memang, pihak desa hanya “nrimo” apa yang menjadi kebijakan Pemerintah Kabupaten. Sedang menurut sebagian warga dusun Djengkol, permasalahan ini bukan hanya masalah lahan reboisasi, galian pasir, atau pembangunan Simpang Lima Gumul. Tetapi ini sudah mengarah kepada masalah sosial yang jika ditelusuri akan beranak pinak dan rentan akan konflik sosial kemasyarakatan, selain rawan kerusakan konservasi alam.</p>
<p>Sekretaris Komisi B (Komisi Keuangan dan Ekonomi) DPRD Kabupaten Kediri Maryoto kepada Koran SURYA beberapa waktu lalu menegaskan, penggarapan proyek pertambangan tanah uruk Djengkol harus melalui izin Dinas Pertambangan Provinsi Jatim. “Ini proyek ilegal,” tandasnya.</p>
<p>Sementara masih dari Koran yang sama Kepala Dispenda Kabupaten Kediri Sutrisno membantah dugaan menguapnya pajak dari proyek tersebut. Bersama stafnya Sutrisno, ia membeberkan bahwa mulai 2002 hasil proyek Djengkol sudah dimasukkan dalam pajak Galian C dengan menggandeng CV Jaya Sakti selaku pengelola pajak. “Kami memasukkan Djengkol pada pos (portal) tidak tetap,” terangnya seraya membuka laporan pendapatan pajak Galian C, di mana selama  2006 nilai pajak dari Djengkol  Rp 10,8 juta, tahun 2007 sebesar 19,4 juta, dan tahun ini menembus Rp 12,5 juta.</p>
<p>Namun, data ini dibantah Maryoto secara terpisah. Kepada Koran SURYA Maryoto menyebutkan, dalam Perda No 14 Tahun 1998 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahanan Galian C,  hanya ada lima lokasi tambang Galian C yang dikenai sistem pajak portal yakni Desa Jeruk Wangi, Kecamatan Kandangan; Sumberejo dan Mekikis, Kecamatan Purwoasri; Sidomulyo, Kecamatan Semen; serta Ngadi, Kecamatan Mojo.</p>
<p>Merunut pada kontektual lokasi tambang galian C di wilayah Kabupaten Kediri, artinya Djengkol tidak termasuk didalamnya. Ini lebih aneh lagi. Legalitas penambangan Galian C di Djengkol belum ada, namun uang pajaknya telah diraih oleh Pemerintah Kabupaten. Jadi Legal atau Ilegal?</p>
<p><strong>SIMPANG LIMA GUMUL (SLG) &amp; DJENGKOL</strong><br />
Sungguh sebuah keanehan. Membangun sebuah kemegahan, disisi lainnya membiarkan sebuah kerusakan alam. Selain soal legalitas yang hingga kini, sebagian besar masyarakat belum mengetahuinya. Belum lagi dampak lain yang muncul.</p>
<p>Sebagai warga dusun Djengkol, saya dan sebagian besar warga lainnya merasa terusik dengan kehadiran dan mondar mandirnya truk truk besar mengangkut pasir, setiap hari, sepanjang pagi, siang hingga menjelang senja, selama beberapa tahun ini. Bayangkan berapa ratus kali sehari. Berapa kubik pasir yang dipindahkan dari aliran lahar Kelud di Djengkol ke SLG.</p>
<p>Hampir semua truk Triple’S yang mengangkut pasir atau tanah urugan dari dusun kami ke SLG, tidak menutup bak-nya dengan plastik atau terpal. Sehingga ini rawan akan polusi debu, sepanjang jalan. Tentu akan mengganggu pengendara yang melintas di belakang truk, terutama pengendara sepeda motor. Saya pernah merasakannya. Mata menjadi perih dan memerah karena debu pasir yang berterbangan.</p>
<p>Sesekali saya juga menemui arogansi para sopir truk Triple’S yang mengemudikan kendaraannya yang penuh dengan pasir dalam kondisi ngebut melewati kawasan perkampungan Djengkol. Secara fisik truknya sungguh besar, ditambah lagi dengan bunyi klaksonnya yang memekakkan telinga.</p>
<p>Saya hanya “bingung” hendak mengadu kepada siapa. Sebagai “bocah jengkol” adalah menjadi hak saya untuk mendapatkan kejelasan sebuah informasi, yang dijamin Undang – Undang. Apalagi persoalan ini kelak bisa menjurus kepada masalah sosial yang makin rumit, jika segera tidak diurai.</p>
<p>Sebulan yang lalu, sebuah koran menurunkan tulisannya mengenai permasalahan ini. Jika kita cermati laporannya, ini sebuah hal yang harusnya sesegera mungkin diselesaikan dengan bijak. Berikut petikannya :</p>
<p><em>DPRD Kabupaten Kediri Senin (5/5) kemarin, menggelar sidang paripurna pertama tahun 2008. Agenda sidang tersebut melaporkan kerja dewan selama periode pertama dan laporan hasil reses anggota dewan beberapa hari yang lalu.</em></p>
<p><em>Sidang paripurna tersebut dihadiri oleh seluruh anggota dewan dan perwakilan dari Pemda Kabupaten Kediri. Di hadapan peserta sidang, pelapor Komisi B Heppy Purwaningrum melaporkan hasil temuan terkait dengan galian ilegal Triple S yang dilakukan di Dusun Djengkol Desa Plosokidul Kecamatan Plosoklaten.</em></p>
<p><em>Dalam laporannya dilapangan di temukan bahwa pengusaha galian C Triple S tidak mempunyai izin penambangan. Cara penggaliannya dinilai sangat parah dan tidak teratur, dan setelah digali tidak dibuatkan pengamanan longsor/ plengsengan. Dalam laporan tersebut juga dipaparkan dampak kerusakan yang diakibatkan oleh galian C Triple S. Diantaranya kantung lahar tidak akan mampu menampung erosi dari bekas penggalian dari lereng Gunung Kelud.</em></p>
<p><em>Monitoring dari pemda yang terkait dengan lingkungan sangat tidak diperhatikan. Apabila Gunung Kelud aktif dan meletus akan menghancurkan jembatan jurusan Wates–Pare dan jembatan pabrik gula. Dari data temuan komisi B dapat menafsirkan panjang galian 2000 meter, lebar galian : 40-50 meter, kedalaman galian : 4-8 meter, tanah yang sudah digali 800.000 meter kubik.</em></p>
<p><em>Sedangkan beberapa informasi yang diperoleh komisi B dari pengusaha Galian C Triple S menyebutkan bahwa izin galian diperoleh dari Gunung Kelud untuk surat izinnya dibawa oleh pimpinan. Triple S membantah sistem penggalian yang yang dilakukannya dianggap merusak lingkungan karena sudah sesuai aturan. Dan penambangan yang dilakukan Triple S rata-rata setiap hari hanya 13 unit truk dan rata-rata mangangkut 4 kali/hari, berat per unit truk kurang lebih 12 ton.</em></p>
<p><em>Pihak Triple S menyatakan sudah pernah memlengseng galian C tersebut, namun hancur terkena erosi. Untuk itu sebagai tindak lanjut dari komisi B berencana untuk mengadakan rapat gabungan dengan komisi A,B,C.</em></p>
<p>Simpang Lima Gumul (SLG), kelak akan menjadi sebuah kawasan yang monumental dan megah. Sebagai warga Kabupaten Kediri saya senang sekaligus bangga. Betapa tidak, adakah proyek “menara gading” lainnya setingkat Kabupaten se Jawa Timur seperti SLG. Hanya kalau kemegahan SLG kelak harus dibayar mahal dengan sebuah bencana alam karena rusaknya kawasan aliran lahar di Djengkol, adalah yang mau menerimanya dengan lapang dada? Lagi lagi rakyat juga yang kelak akan jadi korbannya.</p>
<p>Entahlah, kapan kiranya lagu  “desaku” yang permai ini akan sesuai dengan kenyataan. Rakyatnya makmur karena bisa bertani dengan nyaman dan memanen hasil pertaniannya dengan maksimal. Alamnya terjaga, terawat dan indah, karena tidak ada yang merusaknya.</p>
<p>Saya khawatir, semuanya mungkin hanya benar – benar sebuah lagu, yang biasa saya nyanyikan saat masih sekolah di Taman Kanak – Kanak dulu tahun 80an…</p>
<p><strong>ganang@journalist.com</strong><br />
NIK/NIKS : 1050211101743008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/djengkol.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/djengkol.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djengkol.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djengkol.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=7&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djengkol.wordpress.com/2008/06/10/simpang-lima-gumul-megah-djengkol-resah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4b36d9a8e5c9e9985a9678bc5f89bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djengkol</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JATUH</title>
		<link>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/jatuh/</link>
		<comments>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/jatuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 23:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djengkol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djengkol.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[JATUH Terperosok Termakan waktu Terjerembab Tergilas masa Tertinggal Indahnya pagi Terjebak Ronanya senja Tak dapat kembali Karena tertinggal Tak dapat teraih Karena membumbung Jatuh Dalam kesendirian cita Jatuh Dalam kerentanan asa Jatuh Akankah mampu berdiri Jatuh Akankah mampu menggapai<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=5&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Tahoma;">JATUH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Terperosok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Termakan waktu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Terjerembab</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Tergilas masa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Tertinggal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Indahnya pagi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Terjebak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Ronanya senja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Tak dapat kembali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Karena tertinggal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Tak dapat teraih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Karena membumbung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Jatuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Dalam kesendirian cita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Jatuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Dalam kerentanan asa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Jatuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Akankah mampu berdiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Jatuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Akankah mampu menggapai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/djengkol.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/djengkol.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djengkol.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djengkol.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=5&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/jatuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4b36d9a8e5c9e9985a9678bc5f89bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djengkol</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DJENGKOL : Sebuah Catatan Kilas Balik</title>
		<link>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/djengkol-sebuah-catatan-kilas-balik/</link>
		<comments>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/djengkol-sebuah-catatan-kilas-balik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 23:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djengkol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bekicot]]></category>
		<category><![CDATA[djengkol]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[onderneming]]></category>
		<category><![CDATA[pabrik gula]]></category>
		<category><![CDATA[perkebunan tebu]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[plosoklaten]]></category>
		<category><![CDATA[ptp nusantara 10]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djengkol.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[DJENGKOL KEDIRI JATIM Sebuah Catatan Kilas Balik Djengkol, hanya sebuah tempat di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Menelusuri Djengkol di Internet dengan menggunakan fasilitas Google Search, atau Yahoo atau yang lainnya, jika hanya menuliskan Jengkol, tidak akan menemukan secara &#8230; <a href="http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/djengkol-sebuah-catatan-kilas-balik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=4&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-weight:bold;color:#ff0000;">DJENGKOL KEDIRI JATIM</span>
</div>
<div style="text-align:right;"><span style="font-style:italic;font-family:trebuchet ms;"><span style="color:#3366ff;">Sebuah Catatan Kilas Balik</p>
<p></span></span></div>
<p><a href="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzvdZd5RdI/AAAAAAAAAAY/8FjP7N1rdNA/s1600-h/DSC00340.JPG"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzvdZd5RdI/AAAAAAAAAAY/8FjP7N1rdNA/s320/DSC00340.JPG" border="0" alt="" /></a>Djengkol, hanya sebuah tempat di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Menelusuri Djengkol di Internet dengan menggunakan fasilitas Google Search, atau Yahoo atau yang lainnya, jika hanya menuliskan Jengkol, tidak akan menemukan secara spesifik mengenai Djengkol yang dimaksud. Yang muncul adalah Jengkol sejenis bahan makanan serupa dengan Pete, untuk lalap dan sayuran.</p>
<div style="text-align:left;"><span style="font-size:78%;"><span style="color:#ff0000;">Gambar 01 : Gerbang Masuk Perumahan Djengkol</span></span></div>
<p>Secara Geografis (http://www.fallingrain.com/world/ID/8/Jengkol.html) Djengkol terletak di antara 7° 54&#8242; dan 7° 18&#8242; Lintang Selatan dan 112° 42&#8242; dan 112° 1&#8242; Bujur Timur, dengan batas batas wilayah :<br />
<a href="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzwipd5RfI/AAAAAAAAAAo/lHZNnq2cniM/s1600-h/DSC00383.JPG"><img style="float:right;cursor:pointer;margin:0 0 10px 10px;" src="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzwipd5RfI/AAAAAAAAAAo/lHZNnq2cniM/s200/DSC00383.JPG" border="0" alt="" /></a><br />
-Utara / Lor : Dusun Mangunrejo Desa Pranggang<br />
-Timur/ Wetan : Dusun Trisulo<br />
-Selatan/ Kidul : Dusun Bendo Desa Jarak<br />
-Barat/ Kulon : Dusun Blendri Desa Plosokidul</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;font-size:78%;">Gambar 02 : Eks.Pasar Tradisional Djengkol</span>
</div>
<p>Djengkol bukan sebuah Dusun atau perdukuhan, tetapi sebuah nama/ tempat perkebunan yang kini menjadi bagian dari PTP X &#8211; PG.Pesantren Baru Kediri. Entah sejak kapan dinamakan Djengkol (dengan penulisan ejaan lama – bahkan hingga kini) orang sekitar Kediri, lebih mengetahuinya sebagai daerah perkebunan Tebu sejak dahulu dan letaknya di antara jalan raya yang menghubungkan Kota Pare (17 km arah utara) dan Wates (7 km arah selatan). Bahkan masyarakat utara Djengkol jika hendak menuju ke Blitar, lebih memilih lewat jalan raya ini mengingat lebih dekat daripada melewati Kediri.</p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://bp3.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzxdJd5RgI/AAAAAAAAAAw/4la2wxdRh2M/s1600-h/DSC00358.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;margin:0 auto 10px;" src="http://bp3.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzxdJd5RgI/AAAAAAAAAAw/4la2wxdRh2M/s320/DSC00358.JPG" border="0" alt="" /></a><span style="color:#ff0000;font-size:78%;">Gambar 03 :<br />
Ladang Tebu dengan Latar Belakang Gunung Kelut, Hutan Tropis Djengkol (Alas Jamban) dan Kebun Jambu Mente.</p>
<p></span></div>
<p><span style="font-weight:bold;font-size:100%;">DJENGKOL &amp; SISA SISA NEDERLAND INDISH</span></p>
<p><a href="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz04pd5RjI/AAAAAAAAABI/lPZdJdG3SB4/s1600-h/pesantren+baru+1926.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz04pd5RjI/AAAAAAAAABI/lPZdJdG3SB4/s200/pesantren+baru+1926.jpg" border="0" alt="" /></a>Periode 1800 – 1900an, manakala Belanda menjadikan kawasan ini sebagai perkebunan dan dihuni pula oleh para pengelolanya yang berkebangsaan Belanda, dan ada diantaranya menikah dengan pribumi. Sebuah kuburan tua yang kini tidak terawat lagi, terletak di ujung timur belakang deretan rumah dinas Sinder yang sering di sebut dengan Loji bagian selatan, cukup untuk menjadi buktinya.<br />
<span style="font-size:78%;"><span style="color:#ff0000;">Gambar 04:<br />
Pabrik Gula Pesantren Kediri 1920 (dari KITLV &#8211; Nederland)</span></span></p>
<p><a href="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz2oZd5RkI/AAAAAAAAABs/cVjrgkOZO78/s1600-h/bendoredjo+1920.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz2oZd5RkI/AAAAAAAAABs/cVjrgkOZO78/s200/bendoredjo+1920.jpg" border="0" alt="" /></a>Membaca beberapa batu nisan di kuburan itu meski sudah lapuk dimakan usia, tertera beberapa nama Asing/ Belanda. Diperkiran ada lebih dari 20 makam, yang bentuknya sangat lebar layaknya kuburan Belanda di kota-kota besar. Hingga tahun 1980an masih banyak warga blasteran (Belanda – Pribumi) yang tinggal di wilayah Perkebunan, bukan hanya di Djengkol. Bahkan ada diantaranya menjadi teman sekelas saat di Taman Kanak Kanak Penataran Djengkol.<br />
<span style="font-size:78%;"><span style="color:#ff0000;">Gambar 05 : Vervoer van agavebladeren per lorrie op tapioca- en vezelonderneming Bendoredjo bij Kediri 1920 (dari KITLV &#8211; Nederland)</span></span></p>
<p><a href="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz0Dpd5RiI/AAAAAAAAABA/blogU4X5IdM/s1600-h/djengkol+13+full+%2B+pabrik.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz0Dpd5RiI/AAAAAAAAABA/blogU4X5IdM/s200/djengkol+13+full+%2B+pabrik.jpg" border="0" alt="" /></a>Jika kita menelusurinya lewat Google Earth, melalui foto satelit tetap tertuliskan Djengkol bukan Jengkol dan disejajarkan dengan Kota Kediri, Pare, Wates maupun Blitar. Diperkirakan yang menjadi dasarnya adalah Peta jaman penjajahan Belanda dulu. Dari sebuah Website di sebutkan bahwa Djengkol dulunya adalah kawasan perkebunan untuk pabrik Tapioca (de ondernemingen Djengkol-Kallasan). Karena menjadi kawasan perkebunan maka banyak juga pendatang lokal yang datang ke tempat yang akhirnya di peta-kan dengan nama Djengkol ini untuk menjadi buruh perkebunan dan pabrik.<br />
<span style="font-size:78%;"><span style="color:#ff0000;">Gambar 06: Djengkol dari Udara &#8211; dari Google Earth</span></span><br />
<span style="font-weight:bold;"><br />
DJENGKOL &amp; PALU ARIT DILADANG TEBU</span></p>
<p>Periode 1960 – 1970an adalah puncak ketenaran Djengkol, dimana, namanya mencuat seiring dengan sejarah kelam bangsa ini yang berujung pada Peristiwa GESTAPU &#8211; G30S/PKI, Bung Karno Presiden pertama RI sering menyebutnya dengan GESTOK.</p>
<p><a href="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz4UZd5RlI/AAAAAAAAAB0/k2hQLroqcDA/s1600-h/palu+arit.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:111px;height:161px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz4UZd5RlI/AAAAAAAAAB0/k2hQLroqcDA/s200/palu+arit.jpg" border="0" alt="" /></a>Masa – masa itu adalah saat terjadinya peristiwa “ Palu Arit di Ladang Tebu” meminjam istilah, dari bukunya Hermawan Sulistyo <span style="font-style:italic;color:#3366ff;font-size:85%;">(Hermawan Sulistyo adalah Peneliti Senior pada  Puslitbang Politik dan Kewilayahan LIPI.  Gelar doktornya diperoleh dari  D</span><span style="font-style:italic;color:#3366ff;font-size:85%;">epartment of History, Arizona State University, Amerika Serikat). </span>Versi pemerintah menyebutkan bahwa Peristiwa Djengkol didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memprovokasi Barisan Tani Indonesia (BTI) sebuah Organisasi Underbouw-nya PKI. Karena peristiwa ini banyak simpatisan Partai berlambang Palu Arit itu atau bahkan mereka yang tidak tahu menahu akan PKI, diciduk dan di tahan, bahkan banyak yang di bunuh.<br />
<span style="font-size:78%;"><span style="color:#ff0000;">Gambar 07: Buku Palu Arit di Ladang Tebu </span></span></p>
<p><a href="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz5eZd5RmI/AAAAAAAAAB8/KP9WhQLhwTY/s1600-h/DSC00410.JPG"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz5eZd5RmI/AAAAAAAAAB8/KP9WhQLhwTY/s320/DSC00410.JPG" border="0" alt="" /></a>Periswiwa itu hingga kini masih menyisakan pertanyaan bagi keluarga yang ditinggalkan (anak, cucu) dimana masih ada diantaranya yang mendapatkan label/cap kakek atau nenek mereka dulu adalah PKI. Mereka yang masih hidup kini, tentu banyak kenangan pahit akan hal tersebut. Seorang lelaki berusia sekitar 60tahunan, yang hingga kini masih bermukim di Djengkol menyebutkan dirinya adalah salah satu korban peristiwa yang sangat kelam itu.<span style="font-size:78%;"><span style="color:#ff0000;"></p>
<p>Gambar 08: Rumah Dinas Buruh yang sudah tidak dihuni, saksi bisu &#8221; Peristiwa Djengkol&#8221;</span></span></p>
<p>Disebutkannya, saat itu tahun (60an) dirinya dan beberapa pemuda di Djengkol dan sekitarnya diminta bergabung ke organisasi pemuda untuk berlatih baris berbaris, sebagai persiapan Upacara Hari Kemerdekaan, yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus di tingkat Kabupaten. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Pemuda Rakyat. Akibatnya, pasca peristiwa G 30 S tersebut, dia dan beberapa orang pemuda lainnya diangkut dengan truk tentara dan dipenjarakan di LP Kediri.</p>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz6h5d5RnI/AAAAAAAAACE/Tu-eQdqlYak/s1600-h/HARTO_TIME.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp2.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz6h5d5RnI/AAAAAAAAACE/Tu-eQdqlYak/s200/HARTO_TIME.jpg" border="0" alt="" /></a>Karena tidak terindikasi langsung, maka akhirnya pemuda ini di bebaskan, dan diwajibkan lapor ke aparat TNI setiap minggunya. Bukan itu saja, dengan jaminan sejumlah uang akhirnya dia bisa bebas, meski orang tuanya pontang panting menjual hewan ternaknya untuk menebus sang pemuda tadi. Dampak dari peristiwa itu dirasakannya sangat berat. Selama bertahun tahun jaman ORDE BARU dia tidak bisa leluasa mencari pekerjaan karena cap yang melekat tadi. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, pemuda itu yang kini telah menjadi kakek, dikaruniai lebih dari 10 cucu itu, bekerja serabutan.<br />
Pendek kata, saking begitu hebohnya Djengkol kala itu, sehingga banyak orang di sekitarnya bahkan di dunia ini selalu mengkaitkannya dengan Peristiwa Djengkol dimaksud.<span style="color:#ff0000;font-size:78%;"></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;font-size:78%;">Gambar 09 : MAJALAH TIME July 15, 1966 Vol. 88 No. 3</span><br />
<span style="font-weight:bold;"><br />
DJENGKOL &amp; SATE BEKICOT</span></p>
<p><a href="http://bp3.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz7HJd5RoI/AAAAAAAAACM/ob77uGYY1mY/s1600-h/bkicot2.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp3.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz7HJd5RoI/AAAAAAAAACM/ob77uGYY1mY/s320/bkicot2.jpg" border="0" alt="" /></a>Tahun 1980an, Djengkol kembali populer karena BEKICOT. Sebenarnya Bekicot yang menjadi masakan khas Djengkol itu sudah dikonsumsi warga Djengkol sejak jaman penjajahan Jepang, dimana saat itu rakyat Indonesia krisis pangan akibat Eksploitasi segala potensi Jepang dalam Perang Dunia II. Maka sebagai gantinya, pada jaman susah itu penduduk Djengkol memasak bekicot, sebagai sate dan kripik yang menyerupai paru sapi yang digoreng kering.<span style="color:#ff0000;font-size:78%;"></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;font-size:78%;">Gambar 10 : Primadona Djengkol tahun 80an, kaya protein, di ekspor ke Perancis</p>
<p></span>Pioner dalam memasak bekicot ini diantaranya adalah DJAIS yang mulai menjual sate bekicot untuk umum sejak tahun 1970an. Adanya alternative pangan ini rupanya dilirik pemerintah setempat dengan menggalakkan masyarakatnya untuk membudidayakan/ ternak bekicot.</p>
<p>Adalah SADI,seorang pensiunan Kepala Sekolah yang tinggal di desa Plosokidul, 1 kilometer barat Djengkol menajdi pionirnya dalam ternak bekicot tahun 1980an. Bahkan Plosokidul/Djengkol sempat dikunjungi Menteri Penerangan kala itu di jabat oleh Harmoko, karena budidaya bekicot ini. Sebelum adanya bekicot hasil budidaya, saat itu Djengkol kebanjiran bekicot dari berbagai daerah di luar Kediri.</p>
<p>Hampir setiap hari lebih dari 2 truk bekicot liar yang dikumpulkan warga luar kediri dari kebun dan tanah pekarangan sekitar rumah mereka, dikumpulkan oleh pengepul dan dalam jumlah yang besar baru dikirim ke Djengkol untuk dijual kepada para pemasak bekicot. Kini sisa-sisa kejayaan dan keemasan bekicot masih bisa ditemui. Lebih dari 10 warung makan menyediakan sajian sate bekicot dan kripiknya. Warung warung itu terletak di sepanjang jalan raya Djengkol, diantaranya Warung Mbak Sri, Warung Lumintu dll.</p>
<p><a href="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz7-pd5RpI/AAAAAAAAACU/61jWaAVhuBc/s1600-h/DSC00377.JPG"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz7-pd5RpI/AAAAAAAAACU/61jWaAVhuBc/s320/DSC00377.JPG" border="0" alt="" width="314" height="187" /></a>Selain dijual di warung warung di Dengkol, tahun 80an lebih dari 50 pedagang sate bekicot berjualan dengan cara berkeliling dengan sepeda onthel. Mungkin kini, mereka yang berjualan keliling sudah tidak ada. Kalaupun ada mungkin tidak lebih dari 5 orang. Di Kota Blitar dan Kota Kediri, tidak sulit menemukan sate bekicot ini. Meski bukan produksi Djengkol lagi, banyak pengusaha makanan ini, menitipkannya di warung – warung makan tradisional.<br />
<span style="color:#ff0000;font-size:78%;"></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;font-size:78%;">Gambar 11 : &#8221; Dulu Djengkol rame. Kini sepi mas&#8221; kata </span><span style="color:#ff0000;font-size:78%;">Mbah Mangun, mantan pedagang kelontong  Pasar Djengkol (Akhir Nov 2006)</span></p>
<p>Kepopuleran nama Djengkol, sebenarnya pernah terjadi pada saat beberapa periode kehidupan yang lalu. Kini mungkin bagi siapapun yang melintasi Djengkol akan mendapatkan kesan kusam. Yang terlihat sepintas hanyalah komplek perumahan yang tidak semuanya terisi.</p>
<p>Belum lagi perumahan yang dulu menjadi hunian bagi karyawan/ buruh perkebunan, kini banyak yang tidak dihuni dan tidak terawat lagi. Jika mungkin berkesempatan untuk lebih jauh mengetahui, cobalah untuk masuk ke emplacement Djengkol. Gedung Gedung yang berdiri kokoh itu kini layaknya sebuah bangunan kuno bergaya eropa tanpa keindahan. Deretan rumah rumah sinder Belanda yang kini juga tidak seperti dulu, terawat dengan taman taman yang rapi dan asri.(gp/161206)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/djengkol.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/djengkol.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djengkol.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djengkol.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=4&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/djengkol-sebuah-catatan-kilas-balik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4b36d9a8e5c9e9985a9678bc5f89bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djengkol</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzvdZd5RdI/AAAAAAAAAAY/8FjP7N1rdNA/s320/DSC00340.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzwipd5RfI/AAAAAAAAAAo/lHZNnq2cniM/s200/DSC00383.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://bp3.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYzxdJd5RgI/AAAAAAAAAAw/4la2wxdRh2M/s320/DSC00358.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz04pd5RjI/AAAAAAAAABI/lPZdJdG3SB4/s200/pesantren+baru+1926.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz2oZd5RkI/AAAAAAAAABs/cVjrgkOZO78/s200/bendoredjo+1920.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz0Dpd5RiI/AAAAAAAAABA/blogU4X5IdM/s200/djengkol+13+full+%2B+pabrik.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz4UZd5RlI/AAAAAAAAAB0/k2hQLroqcDA/s200/palu+arit.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz5eZd5RmI/AAAAAAAAAB8/KP9WhQLhwTY/s320/DSC00410.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://bp2.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz6h5d5RnI/AAAAAAAAACE/Tu-eQdqlYak/s200/HARTO_TIME.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bp3.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz7HJd5RoI/AAAAAAAAACM/ob77uGYY1mY/s320/bkicot2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_HONAvHNKaQA/RYz7-pd5RpI/AAAAAAAAACU/61jWaAVhuBc/s320/DSC00377.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/hello-world/</link>
		<comments>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 22:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djengkol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=1&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/djengkol.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/djengkol.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/djengkol.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/djengkol.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=djengkol.wordpress.com&amp;blog=3410244&amp;post=1&amp;subd=djengkol&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djengkol.wordpress.com/2008/04/07/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4b36d9a8e5c9e9985a9678bc5f89bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djengkol</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
